06 Agustus 2008
"Balada Steven"
Ditulis oleh dewi yuhana dan telah dikomentari sebanyak 0 buah
"Hi, my name is Steven, nice to meet u.."
"Hi, Im Hana. Nice to meet u too..."
Itu adalah awal perkenalanku dengan Steven, cowok berusia 27 tahun, bertubuh tinggi tegap, berkulit putih bersih, dengan rambut cepak rapi. Keramahannya membuatku merasa nyaman berada di antara para pasien sakit jiwa dan pasien ketergantungan narkoba di salah satu rumah sakit swasta di Batu, suatu hari di tahun 2000. Ya, kami mahasiswa Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) yang tergabung dalam Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) saat itu sedang mengadakan kunjungan dan studi banding ke rumah sakit yang didesain 'sangat nyaman' untuk pasien dari keluarga kaya raya itu.
Ya,
bisa aku katakan kaya karena biaya 'nginap' sebulan di rumah sakit tersebut dua
kali lipat dari jatah bulanan saya yang mahasiswa. Itu belum biaya obat dan
konsultasi dokter, psikiater, ataupun psikolog. Menurut Steven, para pasien
datang dari seluruh daerah di Indonesia.
"Khusus untuk narkoba, banyak anak pejabat dan pengusaha. Lihat aja
penampilan mereka, keren-keren kan?","
katanya sembari menunjukkan beberapa remaja pria dan putri yang sedang asik
bercengkerama di teras kamar dengan taman kecil di depannya.
Sembari melihat tingkah polah mereka, aku menganggukkan kepala tanda setuju.
Ya, hanya dengan mengamati gaya
berpakaian pasien ketergantungan narkoba itu, siapapun akan sepakat jika mereka
anak-anak dari keluarga beruang, eh berduit. Meskipun 'cuma' memakai kaos,
tapi tertulis merek luar negeri yang harganya ratusan ribu. Lha kalo bukan anak
orang kaya, apa ya rela mengeluarkan duit sebegitu besar hanya untuk membeli
sebuah kaos.
Setelah melewati kamar berderet di bangsal depan, kami berkeliling rumah sakit dan kemudian diarahkan ke ruang pertemuan pasien. Di sana, ada aneka kerajinan tangan karya pasien yang diperjual belikan. Seingatku, waktu itu aku membeli sebuah kipas dan rangkaian bunga. Di dalam ruangan, kami ‘dihibur’ dengan tingkah polah pasien gangguan jiwa yang mendemonstrasikan acara cerdas cermat dengan host para pekerja sosial.
“Oia, kamu dah berapa lama di sini?”
“Three years,” kata Steven yang selalu menggunakan bahasa Inggris dalam percakapan kami.
“Oh ya? Emang bekerja di sini ato sukarelawan?”
“No. Im one of them”
“Ow! What d u mean?”
“Im a medical patient, gw juga pasien di sini!”
GLod@K!#$!. “HAH?,” ucapku dengan suara tercekat, mata membelalak tak percaya.
“Ha2…why? Gak percaya ya?”
“Iya. Ehmm…penampilan kamu oke en U speak English fluently… emang pasien apa ya?” (nah, pertanyaan ‘aneh’ ini terlontar mungkin gara2 aku terlalu shock (padahal jawabannya kan jelas, kalo gak sakit jiwa ya kecanduan). Cowok sekeren Steven ternyata kok salah satu pasien, hiks…)
“Dua-duanya”
“What?!....whew! gw speechless deh”
Dari ceritanya, Steven adalah anak seorang dosen di sebuah universitas swasta bergengsi di Jakarta. He has been stay in Amerika for 7 years, makanya ngomong pake bahasa bule mlulu. Steven termasuk pribadi dengan tingkat ‘agresivitas’ tinggi. Minimnya kasih sayang dari orang tua membuatnya mencari pelampiasan dengan ‘mencoba-coba’ ngedrug. Dari coba-coba, ia kecanduan.
Efek narkoba (narkotika dan obat berbahaya) berpengaruh besar terhadap kepribadian Steven. Sisi agresifnya semakin menguat karena ia tak mampu mengontrol emosi saat obat jahanam itu mulai menguasai ‘otak’nya. “Kalau sudah marah, aku bisa banting semua barang di rumah. Perabotan pecah semua. Kalau ditenangin, aku melawan. Dipegang, aku berontak dan bisa menghajar siapapun yang memegangku. Makanya dimasukin ke sini,” ceritanya dengan cukup lancar, tanpa beban.
Ya, setelah pengakuan mengejutkan itu barulah aku melihat sisi pribadi lain Steven. Ia berbicara sangat lancar, namun sebagian besar tanpa ekspresi. Pandangan matanya beberapa kali terlihat kosong, dan seringkali nge-blank hingga aku harus mengulang sebuah pertanyaan. Sungguh sayang, alumnus perguruan tinggi Amrik, tapi berakhir di rumah sakit Jiwa karena Narkoba.
Berbicara tentang narkoba, sebenarnya adalah psikotropika yang digunakan untuk membius pasien yang akan dioperasi, tentu saja dengan dosis tertentu sesuai yang diresepkan dokter. Hanya, dalam kenyataannya, banyak oknum tak bertanggung jawab yang menjual bebas psikotropika ini. Padahal jika dikonsumsi berlebih akan mengakibatkan beberapa efek psikis dan fisik jangka panjang. Diantaranya, si pemakai dapat berhalusinasi (melihat benda atau hal yang sebenarnya tak ada), kehilangan konsentrasi, gampang gelisah dan kebingungan, paranoid, dan masih banyak lagi (sedikit lebih detil, baca jenis-jenis psikotropika di bawah ini ya…).
- Heroin adalah obat terlarang yang sangat keras dengan zat adiktif tinggi berbentuk butiran, tepung atau cairan, yang menjerat pemakainya dengan cepat baik dari segi fisik maupun psikis (mental).
- Ganja, menyebabkan gangguan mental yang diikuti kecanduan fisik jangka panjang. Obat ini mengandung zat kimia yang mempengaruhi perasaan, penglihatan serta pendengaran. Pemakaian berlebih dapat menghilangkan konsentrasi, peningkatan denyut jantung, kehilangan keseimbangan dan koordinasi tubuh, meningkatkan rasa gelisah, depresi, kebingungan dan halusinasi.
- Shabu-shabu/ice (methamphetamine) memiliki efek yg sangat kuat pada jaringan syaraf. Penggunaan dalam jangka waktu lama dapat menyebabkan peradangan pada otot hati atau kematian. Pemakaian Shabu-Shabu dapat menurunkan berat badan, impotensi, halusinasi, kerusakan hati, jantung, stroke.
- Amphetamin
adalah obat terlarang berbentuk
kapsul, pil, atau tepung yang menjadi stimulan yang mengubah
suasana hati. Amphetamin memiliki efek perangsang yang kuat
pada jaringan syaraf, sehingga penggunanya menjadi tergantung pada obat ini, tingkah lakunya kasar dan aneh, penampilannya seperti orang yang kurang tidur, tekanan darah tinggi, paranoid dan gampang pingsan.
(read more ...)Di tengah ‘ketidaksadarannya’, Steven masih sempat berpesan kepadaku “Jangan sekali-kali nyobain narkoba!, ntar lu kayak gue, gila. Mau?!”
Whew!, aku cumin tersenyum kecut mendengar ‘nasehat’nya. “Oia, u sepertinya dah sehat, kok masih di sini?”
“Ya, dari fisik aku sehat, tapi kalo suasana hatiku jelek, bisa gampang marah. Atau, lingkungan nggak mendukung, bisa langsung kambuh. Orang rumah, semuanya cuek. Kalau sudah begitu, aku tambah mangkel aja, mendingan di sini, nggak ngapa2in, cuman tidur aja, dikasih uang saku lagi”

Subcribe RSS of this blog







