• Photo Galery

    • November 2008
      MSSRKJS
            1
      2345678
      9101112131415
      16171819202122
      23242526272829
      30
  • Archives

  • Content Tag

  • Testimonials

    • wuih,, kakakQ klo lg ngasih petuah eoui,,,!!!!!!! oke deh mb. dia mlm ini lngsung di bawa ke paiton untuk pengobatan
  • Blog Roll

  • Statistik

      Blog ini telah dikunjungi sebanyak : 470 kali
  • Subcribe RSS of this blog
  • 06 Agustus 2008

    "Balada Steven"

    Ditulis oleh dewi yuhana dan telah dikomentari sebanyak 0 buah

    "Hi, my name is Steven, nice to meet u.."

    "Hi, Im Hana. Nice to meet u too..."

          Itu adalah awal perkenalanku dengan Steven, cowok berusia 27 tahun, bertubuh tinggi tegap, berkulit putih bersih, dengan rambut cepak rapi. Keramahannya membuatku merasa nyaman berada di antara para pasien sakit jiwa dan pasien ketergantungan narkoba di salah satu rumah sakit swasta di Batu, suatu hari di tahun 2000. Ya, kami mahasiswa Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) yang tergabung dalam Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) saat itu sedang mengadakan kunjungan dan studi banding ke rumah sakit yang didesain 'sangat nyaman' untuk pasien dari keluarga kaya raya itu.


         Ya, bisa aku katakan kaya karena biaya 'nginap' sebulan di rumah sakit tersebut dua kali lipat dari jatah bulanan saya yang mahasiswa. Itu belum biaya obat dan konsultasi dokter, psikiater, ataupun psikolog. Menurut Steven, para pasien datang dari seluruh daerah di Indonesia. "Khusus untuk narkoba, banyak anak pejabat dan pengusaha. Lihat aja penampilan mereka, keren-keren kan?"," katanya sembari menunjukkan beberapa remaja pria dan putri yang sedang asik bercengkerama di teras kamar dengan taman kecil di depannya.


         Sembari melihat tingkah polah mereka, aku menganggukkan kepala tanda setuju. Ya, hanya dengan mengamati gaya berpakaian pasien ketergantungan narkoba itu, siapapun akan sepakat jika mereka anak-anak dari keluarga beruang, eh berduit. Meskipun 'cuma' memakai kaos, tapi tertulis merek luar negeri yang harganya ratusan ribu. Lha kalo bukan anak orang kaya, apa ya rela mengeluarkan duit sebegitu besar hanya untuk membeli sebuah kaos.


         Setelah melewati kamar berderet di bangsal depan, kami berkeliling rumah sakit dan kemudian diarahkan ke ruang pertemuan pasien. Di sana, ada aneka kerajinan tangan karya pasien yang diperjual belikan. Seingatku, waktu itu aku membeli sebuah kipas dan rangkaian bunga. Di dalam ruangan, kami ‘dihibur’ dengan tingkah polah pasien gangguan jiwa yang mendemonstrasikan acara cerdas cermat dengan host para pekerja sosial.


    “Oia, kamu dah berapa lama di sini?”

    “Three years,” kata Steven yang selalu menggunakan bahasa Inggris dalam percakapan kami.

    “Oh ya? Emang bekerja di sini ato sukarelawan?”

    “No. Im one of them”

    “Ow! What d u mean?”

    “Im a medical patient, gw juga pasien di sini!”

    GLod@K!#$!. “HAH?,” ucapku dengan suara tercekat, mata membelalak tak percaya.

    “Ha2…why? Gak percaya ya?”

    “Iya. Ehmm…penampilan kamu oke en U speak English fluently… emang pasien apa ya?” (nah, pertanyaan ‘aneh’ ini terlontar mungkin gara2 aku terlalu shock (padahal jawabannya kan jelas, kalo gak sakit jiwa ya kecanduan). Cowok sekeren Steven ternyata kok salah satu pasien, hiks…)

    “Dua-duanya”

    “What?!....whew! gw speechless deh”


        Dari ceritanya, Steven adalah anak seorang dosen di sebuah universitas swasta bergengsi di Jakarta. He has been stay in Amerika for 7 years, makanya ngomong pake bahasa bule mlulu. Steven termasuk pribadi dengan tingkat ‘agresivitas’ tinggi. Minimnya kasih sayang dari orang tua  membuatnya mencari pelampiasan dengan ‘mencoba-coba’ ngedrug. Dari coba-coba, ia kecanduan.


         Efek narkoba (narkotika dan obat berbahaya) berpengaruh besar terhadap kepribadian Steven. Sisi agresifnya semakin menguat karena ia tak mampu mengontrol emosi saat obat jahanam itu mulai menguasai ‘otak’nya. “Kalau sudah marah, aku bisa banting semua barang di rumah. Perabotan pecah semua. Kalau ditenangin, aku melawan. Dipegang, aku berontak dan bisa menghajar siapapun yang memegangku. Makanya dimasukin ke sini,” ceritanya dengan cukup lancar, tanpa beban.


         Ya, setelah pengakuan mengejutkan itu barulah aku melihat sisi pribadi lain Steven. Ia berbicara sangat lancar, namun sebagian besar tanpa ekspresi. Pandangan matanya beberapa kali terlihat kosong, dan seringkali nge-blank hingga aku harus mengulang sebuah pertanyaan. Sungguh sayang, alumnus perguruan tinggi Amrik, tapi berakhir di rumah sakit Jiwa karena Narkoba.

        

         Berbicara tentang narkoba, sebenarnya adalah psikotropika yang digunakan untuk membius pasien yang akan dioperasi, tentu saja dengan dosis tertentu sesuai yang diresepkan dokter. Hanya, dalam kenyataannya, banyak oknum tak bertanggung jawab yang menjual bebas psikotropika ini. Padahal jika dikonsumsi berlebih akan mengakibatkan beberapa efek psikis dan fisik jangka panjang. Diantaranya, si pemakai dapat berhalusinasi (melihat benda atau hal yang sebenarnya tak ada), kehilangan konsentrasi, gampang gelisah dan kebingungan, paranoid, dan masih banyak lagi (sedikit lebih detil, baca jenis-jenis psikotropika di bawah ini ya…).

    NarkobanarkobaNarkobaNarkoba


    1. Heroin adalah obat terlarang yang sangat keras dengan zat adiktif tinggi berbentuk butiran, tepung atau cairan, yang menjerat pemakainya dengan cepat baik dari segi fisik maupun psikis (mental).
    2. Ganja, menyebabkan gangguan mental yang diikuti kecanduan fisik jangka panjang. Obat ini mengandung zat kimia yang mempengaruhi perasaan, penglihatan serta pendengaran. Pemakaian berlebih dapat menghilangkan konsentrasi, peningkatan denyut jantung, kehilangan keseimbangan dan koordinasi tubuh, meningkatkan rasa gelisah, depresi, kebingungan dan halusinasi.
    3. Shabu-shabu/ice (methamphetamine)  memiliki efek yg sangat kuat pada jaringan syaraf. Penggunaan dalam jangka waktu lama dapat menyebabkan peradangan pada otot hati atau kematian. Pemakaian Shabu-Shabu dapat menurunkan berat badan, impotensi, halusinasi, kerusakan hati, jantung, stroke.
    4. Amphetamin adalah obat terlarang berbentuk
      kapsul, pil, atau tepung yang menjadi  stimulan yang mengubah
      suasana hati.  Amphetamin memiliki efek perangsang yang kuat
      pada jaringan syaraf, sehingga penggunanya menjadi tergantung pada obat ini, tingkah lakunya kasar dan aneh, penampilannya seperti orang yang kurang tidur, tekanan darah tinggi, paranoid dan gampang pingsan.

        Di tengah ‘ketidaksadarannya’, Steven masih sempat berpesan kepadaku “Jangan sekali-kali nyobain narkoba!, ntar lu kayak gue, gila. Mau?!”

        Whew!, aku cumin tersenyum kecut mendengar ‘nasehat’nya. “Oia, u sepertinya dah sehat, kok masih di sini?”

        “Ya, dari fisik aku sehat, tapi kalo suasana hatiku jelek, bisa gampang marah. Atau, lingkungan nggak mendukung, bisa langsung kambuh. Orang rumah, semuanya cuek. Kalau sudah begitu, aku tambah mangkel aja, mendingan di sini, nggak ngapa2in, cuman tidur aja, dikasih uang saku lagi”

    (read more ...)

    06 Agustus 2008

    SMS ke 8000NYASAR kah?!

    Ditulis oleh dewi yuhana dan telah dikomentari sebanyak 0 buah

    Pertama kali nulis untuk ngikut Flexter Blogging, 25 Juni lalu. Kirim SMS ke 8000 dan nomor 021 sekian-sekian itu. Eh, ternyata ndak juga dapat balesan. Satu atau dua minggu kemudian baru ada reply ucapan selamat dan semoga menjadi salah satu pemenang. Nggak kurang lama tuh reply-nya?

    Karena masalah reply SMS yang lama itu jugalah aku agak males posting untuk ikutan FB. Ni kompetisi beneran apa main2an? kok masalah 'kecil' seperti reply SMS aja ndak bisa terselesaikan. Tadi pagi, sembari nunggu jam ketemuan dengan relasi, ada mood bwt nulis. Selesai posting, kirim SMS, eeeeh sampe aku nulis di blog saat inipun aku belum tau "NASIB" SMS-ku ke 8000. Udah tiba di tujuan dengan selamat, sempet nyasar ke jalur lain, ato malah masih bingung cari jalan? auk ah gelap.....

    (read more ...)

    06 Agustus 2008

    :: Tulis Ide, Torehkan Sejarah ::

    Ditulis oleh dewi yuhana dan telah dikomentari sebanyak 0 buah

    “Mbak, ada banyak kalimat dan ide yang terlintas di otak. Tapi tetap saja nggak bisa menuliskannya, buntu, macet, bingung!!. Gimana dunk?”

     

     

    Diklat SMAN 1

     

        Pernyataan sejenis seringkali terlontar dari para peserta diklat menulis atau jurnalistik. Pernyataan sama yang saya lontarkan delapan tahun lalu. Ya, saya memang tidak terlahir dari keluarga penulis. Bapak saya guru, ibu ‘menggeluti’ profesi tertinggi sebagai ibu rumah tangga. Menulis, secara harfiah (sesuai dengan Kamus Besar Bahasa Indonesia, menulis adalah membuat huruf (angka, dsb) dengan pensil, kapur dan sebagainya,Red), Alhamdulillah saya sangat bisa sekali. Tapi menulis dalam arti melahirkan pikiran, ide, dan perasaan dengan tulisan tetap saja menjadi sesuatu yang sangat berat!, berrraaat sekali.

        Bahkan ketika aktif di Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Komisariat Psikologi UMM dan berinteraksi dengan para aktivis yang sebagaian besar menjadi penulis opini di beberapa media massa, saya tetap belum mampu menulis, bahkan selembarpun!. Hingga akhirnya ide dan penilaian saya terhadap sebuah peristiwa sosial, pendidikan, politik, dan pendapat terhadap lontaran ide serta pemikiran seseorang (tokoh, ahli, dll) harus terhenti di benak. Tak terungkap, tak mampu mengungkapkan, dan terasa menyedihkan.

        Tak sekali dua kali tercetus dalam hati “Wah, aku sebenarnya juga mau menulis seperti ini. Sayang kok ya ndak bisa keluar” saat membaca artikel yang dimuat di media massa.

        Keinginan untuk belajar menulis, selalu muncul dan terus tumbuh. Tapi u know?! Ingin saja memang tak cukup, dan tidak akan pernah cukup. Keinginan tanpa direalisasikan hanya akan menjadi kata “INGIN”, dan itu yang saya alami delapan tahun lalu. Ingin menulis, lalu mencoba menulis, tidak bisa, dan langsung give up (putus asa). Hingga kemudian seorang anggota HMI cowok menunjukkan tulisannya yang dimuat di Harian Pagi Malang Post, judul dan bahasannya cukup sederhana “Bahaya Merokok”. HAH?! Menulis soal merokok saja dimuat di koran? Lha kalo begitu aku ya bisa dunk!! Bisa menulis tentang kesehatan, psikologi (sesuai dengan background ilmu yang aku ambil) menulis tentang derita Mbok Iyem, janda tua tetangga rumah yang tak memiliki pekerjaan tetap dan terus berharap kucuran bantuan langsung tunai (BLT) dan belas kasih masyarakat. 

        Tentu SANGAT BISA! Sayang saya tetap tak mampu menuangkan ide itu dalam tulisan. Hiks, menuliskan pemikiran ternyata tak segampang mengucapkannya. Suruh saya berbicara di depan audiens, dengan latar belakang apapun dan usia berapapun, saya pasti akan berkata YES!, OK!. Tapi menulis? Uh, pikir-pikir dulu deh.

        Namun pengalaman adik tingkat di HMI itu benar-benar menohok saya. Jika ia bisa, saya tentu juga mampu menulis. Karena itu tanpa sepengetahuan rekan-rekan kuliah dan aktivis lain, saya mengikuti Diklat Jurnalistik yang digelar Malang Post. Saya bersama peserta diklat lainnya, digembleng selama tiga hari oleh Pimrednya yang juga Redaktur Senior Jawa Pos H Husnun N. Djuraid, dicekokin teori jurnalistik mulai dari ketentuan 5 W (What, Where, When, Who, Why) dan 1 H (How) dalam sebuah lead (teras berita) sampai dengan “Rukun Iman” yang menjadi patokan sebuah peristiwa layak diberitakan dan dimuat di media massa seperti “Faktual, Ketokohan, Proximity (kedekatan), dan lain sebagainya”, yang diteruskan dengan magang menulis selama sebulan.

        Mengetahui teori lalu mempraktikkannya tetap saja tak mudah. Saya masih ingat komentar Pak Husnun saat melihat saya masih bengong di depan monitor komputer karena bingung akan memulai menulis apa dari data liputan yang saya peroleh hari itu. “Monitor-e iso pecah! Lha dari tadi kok dipelototin terus. Ayo, mulai nulis!! Dicoba sambil jangan lupa membaca contoh berita di koran!”.

        Yupz!, MEMBACA. Saya mengambil koran, membaca tulisan tentang berita ekonomi (karena kebetulan waktu magang saya ditempatkan di Rubrik Ekonomi Bisnis), dan mencoba mengikuti alur tulisan berita yang dimuat dalam tulisan saya. YES!, setelah berjuang keras selama lebih dari dua jam!, menghabiskan dua gelas teh, dua bungkus wafer, beberapa permen, dan beberapa kali mondar-mandir ke kamar mandi, tulisan pertama saya tentang pelaksanaan lomba menggambar oleh sebuah perusahaan (bukan ekonomi banget, he3...) bisa terselesaikan dan dimuat!. Waaaah, rasanya senang sekali. Dari sekian banyak peserta diklat yang magang, tulisan saya waktu itu dimuat pertama kali yang menjadi awal dari tulisan-tulisan lain yang dimuat beberapa hari kemudian.

        Dari pengalaman tersebut, saya semakin meyakini bahwa menulis tak dibatasi oleh ‘bakat’ dan keturunan. Menulis, bisa dipelajari, sehingga ‘seharusnya’ tak ada lagi kata “Aduh, aku ndak berbakat menulis” atau “Wajar aku nggak bisa menulis, wong bukan keturunan penulis kok”.

        Saya sering berbagi pengalaman ini kepada beberapa peserta diklat, salah satunya siswa SMAN 1 Malang, dalam diklat menulis yang digelar Flexter Malang. “Kalo masih belum PeDe ngirim tulisan ke media massa, posting tulisan kamu dalam blog. Ada banyak media yang bisa dimanfaatkan, Friendster punya blog, Wordpress, dan blog buatan anak negeri di www.myflexiland.com. Kamu bisa menulis, melakukan editing, dan mempublikasikannya!,” kata saya kepada mereka, kala itu.

    Tulisan, akan menjadi bukti sejarah di masa depan. Sejarah tentang si penulis, sejarah tentang yang ditulis.

        Dengan tulisan, kita dapat melakukan demonstrasi dengan lebih bermartabat. Tak ada aksi anarkis yang melukai hati masyarakat. Melalui tulisan, kita mencoba membangun Indonesia menjadi bangsa yang bermartabat.

     

    (read more ...)

    06 Agustus 2008

    Me-Merdeka-kan Indonesia dengan Membaca

    Ditulis oleh dewi yuhana dan telah dikomentari sebanyak 1 buah


    Seminar di Jombang

        Dari sekian banyak nyonya wali kota dan bupati yang sudah aku temui, Ibu Euis Ali Fikri, istri Bupati Jombang saat ini adalah yang terbaik dari semuanya. Ya, saya sudah terkesan dari pertemuan
    pertama kami saat saya menjadi moderator dalam Seminar Interaktif untuk guru TK, 19 Juli lalu di Pemkab Jombang.

        Terkesan, karena Ibu Euis memberikan sambutan tanpa harus membaca teks, kebiasaan yang seringkali dilakukan sang nyonya besar lain (bahkan juga oleh sebagian wali kota dan bupati). Jika intonasi sambutan nyonya-nyonya bupati lain terdengar datar dan seringkali salah membaca sebuah istilah karena memang dibuatkan oleh protokoler, maka sambutan Ibu Euis terdengar lancar, berisi dan penuh dengan joke-joke ringan. Ia mampu membuat audiens memperhatikan omongannya karena memang layak untuk didengarkan, bukan hanya karena ia seorang istri bupati.

        Tak hanya itu, satu hal yang membuat saya salut adalah Ibu Euis ternyata masih sempat membaca banyak buku di sela-sela kesibukannya sebagai ibu nomor satu di Jombang. Ya, buku yang bagi sebagian besar masyarakat masih dianggap barang sekunder dengan nomor urut paling bawah dari total nama barang-barang sekunder lainnya.

        Bahkan buku belum menjadi nama barang yang ditulis di urutan pertama dalam daftar belanja para guru. Karena itu, tak salah jika Ibu Umi Dayati, pemateri seminar yang juga dosen Universitas Negeri Malang (UM) menyindir para guru di tengah penyampaian materi dikemas dengan fun dengan sesekali diselingi menyanyikan lagu-lagu populer karya Ungu, Slank, Nidji, Dewa 19, dan masih banyak lagi.

        “Kalo bapak dan ibu hapal lagu-lagu tadi berarti bisa mendengarkan radio, nonton televisi atau bahkan beli kasetnya. Berarti ada uang untuk disisihkan membeli buku,” katanya yang disambut tawa audiens.

        Ya, buku menjadi sekolah efektif dan sumber informasi lengkap bagi siapapun yang (mau) membacanya. Jika pernah membaca atau mendengar buku “Dunia Tanpa Sekolah” yang ditulis seorang anak berusia 15 tahun, Anda mungkin akan tahu betapa buku mampu memerdekakan si anak yang merasa terkungkung dengan system dan metode pengajaran yang diterapkan di sekolah. Tanpa bermaksud menafikan keberadaan sekolah formal, tokoh utama dalam buku tersebut memutuskan untuk tidak meneruskan sekolahnya dan mampu eksis dengan ilmu yang diserap dari membaca aneka ragam buku. How amazing!.

        Azam Fakhri (Mas Ai), adalah tokoh nyata sosok cerdas yang bersekolah dengan guru ‘buku’. Ya, putra kedua dari Pak Fuad Effendy, dosen UM, itu memutuskan untuk tidak meneruskan sekolah bahkan sejak SD dan menggantikannya dengan membaca buku pendidikan, politik, ekonomi, social, bahkan yang berkaitan dengan computer dan desain grafis. Tanyakan apa saja, ia akan mampu menjawabnya.

        Ups, saya tidak bermaksud mengajak Anda untuk meninggalkan sekolah formal (meski sistemnya tetap harus dirombak), tapi mengakui bahwa buku memang menawarkan jutaan ilmu yang mungkin tak akan pernah kita terima di sekolah. Namun mengakui saja tak cukup jika tidak mempraktikkannya. Dan lagi-lagi, praktik memang selalu lebih sulit direalisasikan. Praktik nyata tak segampang menuliskannya dalam sebuah artikel.

        Saya, saat ini pun berada dalam proses belajar mencintai buku (dengan berusaha membacanya) di sela waktu 24 jam yang sudah dikaruniakan Tuhan. Lagi pula, bukankah Allah Yang Esa pun berfirman “Iqra!”….”Bacalah!” dalam ayat pertama Alquran yang diturunkan kepada Rasulullah?.

        Mencoba menyisihkan sebagian dari uang jajan setiap hari untuk belanja buku di akhir bulan menjadi salah satu alternative yang dapat dipilih. Jika kita menyisihkan Rp 1000 per hari, berarti akan ada uang Rp 30 ribu di akhir bulan (asumsi 30 hari) yang bisa dibelikan satu buku. Jika Anda menyisihkan Rp 2000 akan ada dana Rp 60 ribu, Rp 3000 menjadi Rp 90 ribu, dan seterusnya. Mudah kan?

        Atau, jika Anda orang tua dari seorang anak, atau dua atau tiga (dan seterusnya), Anda dapat mengarahkan anak-anak Anda untuk mencintai buku. Misalnya, mengganti tujuan rekreasi akhir minggu ke toko buku, membiasakan anak ‘memegang’ aneka ragam buku sejak kecil sehingga ia terbiasa dan tak menganggap ‘membaca’ sebagai hukuman tidak menyenangkan.

        “Indonesia Membaca” dapat diawali dari diri kita sendiri, keluarga terkecil dan lingkungan sekitar. Jika bukan kita, siapa yang akan peduli terhadap negara tercinta? Jika Pahlawan kita dulu berjuang mengangkat senjata untuk memerdekakan tanah air, maka kita generasi muda penerus bangsa sudah seharusnya meneruskan perjuangan itu dengan ilmu (yang salah satunya diperoleh dari memperbanyak membaca).

        Buat Anda yang tak sengaja membuka blog ini, Selamat Hari Kemerdekaan Indonesia!

        Merdeka!

        Merdekakan Rakyat dengan Membaca!


    (btw eniwe baswe, mohon doa restu untuk rencana membuka NyiruSavira Collection yang dikonsep dengan keberadaan mini library, yang memungkinkan konsumen yang sedang berbelanja pakaian untuk membaca koleksi buku NyiruSavira, gratis)

    (read more ...)

    25 Juni 2008

    Flexter, dari Komunitas Membangun Indonesia

    Ditulis oleh dewi yuhana dan telah dikomentari sebanyak 1 buah

    Membangun bangsa? waduh berat......ngebangun rumah aja belon bisa! kok mimpi yang enggak-enggak. Udah deh, ada yg kebagian tugas bwt mikir2 yg begituan kok. Itu tuh, para prof berambut botak depan-belakang yang terpesona BBM berbahan air, pejabat alim yang akhirnya ketauan berbuat mesum, para penegak hukum yang mendadak jadi mas dan abang si Ratu Lobi Jeng Artalyta 'Ayin' Suryani, atauuu....petinggi perusahaan yang melakukan kartel biaya SMS. Upz, 4 the last one, asal ngetik ajah tuh Laughing

    Well, ide membangun bangsa menjadi salah satu topik Flexter Blogging "competition" 2008, sounds hard tapii...sebenernya enggak juga sich. Tiap-tiap QT, makhluk Tuhan yang paling sexi, sudah memberikan kontribusi membangun bangsa kok. Ngeblog, yang katanya Om Suryo cuman kerjaannya orang iseng, menurut aku ya wujud dari ngebangun bangsa. Gimana enggak, lahir ratusan, ribuan, bahkan jutaan ide brilian dan bermanfaat untuk masyarakat dan negara dari postingan, diskusi, dan komen para blogger. Nah, apa itu ndak membangun bangsa?!

    Munculnya Flexter -komunitas pengguna Telkom Flexi yang tergabung di Myflexiland- pun sebenernya realisasi dari konteks membangun bangsa. Terlepas dari misi meningkatkan sales dan membangun brand image, pencetus ide untuk membentuk Flexter perlu diacungi empat jempol! -wadooooww....dirikyu hampir jatuh gara2 mo angkat dua jempol kaki...Frown

    .ehmmm, berarti Aa' Bedegong sama Mr Zeruben masuk finalis penerima award Tokoh Pencetus dan Perealisasi Ide Membangun Bangsa dunk? .....Yupz two thumbs up buat si bapak gaul itu...(nah, kalo sekarang seh, gak pake acara mo jatuh. Cuman acungin dua jempol kok....).

    Kalo pencetus Flexter mendapat acungan empat jempol (loh kok, balik ke empat jempol lagi?!), maka para flexter yang notabene termasuk ane n' ente yang nyasar di blog ini musti dapet acungan 10 JEMPOL!!!
    RM Inggil
    Hah?! Gimana caranya?
    waduuuh, githu aja kok repot.....Panggil lima orang Flexter trus suruh angkat dua jempol tangan masing2 kan udah jadi 10 to...
    (ehmmm...jangan2 pas pelajaran tambahan izin ke kamar mandi sampe lupa balik ke kelas...).




    (read more ...)

    17 Juni 2008

    WONDeR WOMeN

    Ditulis oleh dewi yuhana dan telah dikomentari sebanyak 2 buah

                           "Mbak JameeLa ngeblog judulnya wonder women yow...."

    Nah, itu tadi bunyi SMS milis dari Paijo. Yupz, as u wish Jo, Im writing....

    Buat penggemar HAna JameeLa, eh salah ding..Mulan JameeLa, pasti sudah nggak asing dengan lirik Wonder Women. ........Aku bukan wonder womenmu yang bisa harus menahan rasa sakit karna mencintaimu. Hatiku ini bukanlah hati yang tercipta dari besi dan baja, hatiku ini bisa remuk dan hancur......
    Saat ngedenger lagu ini 4 the first time, aq langsung jatuh cinta. Yupz, Im not ur wonder women, and will not...meskipun swear cinta itu memang ada dan akan selalu ada till the end of my life. Hallah!! kok jadi mellow di pagi hari yakz?!. 
    Gini deh, cinta bisa datang kapanpun, saat kita tak pernah meminta dan mengharapkannya. Kepada siapapun, bahkan jika dia orang yang tak pernah kita bayangkan sebelumnya. Mencintai adalah anugerah terindah dan terbesar dari Yang Maha Kuasa, pemilik Alam Semesta. Sebab cinta membuat kita hidup dan mampu bertahan menghadapi semua rintangan dan kesulitan yang menghadang.
    Cinta yang Menguatkan

    Cinta....
    ia mendewasakan...
    Cinta...
    membahagiakan, menyenangkan, menguatkan...
    Cinta....
    kita mau berkorban untuknya...
    tapi jangan pernah menjadi korban cinta....



    Salam Cinta untuk semua......

    (read more ...)

    17 Juni 2008

    PAGI FLExTeRS

    Ditulis oleh dewi yuhana dan telah dikomentari sebanyak 3 buah

    Pagi Flexters.....

    whew!! ternyata dah lama amiiiit ninggalin my FL Blog.....
    sebenernya seh kangen berat ama Jeng Ina n' Nikme
    Nge-gosip, ngomong-ngoming, curhat de el el

    emang bener, gak bisa ngelupain Flexter, always... dan segala peristiwa lucu yang terjadi.

    Oia, jujur aja nich, I've to adaptasi dengan format blog baru yang lebih oke. Makanya nayamul* lama upload foto. Lha pas mo insert trus nge-klik advanced lha kok malah ga bisa di-insert. Nah, inigara2 dirikyu bertapa terlalu lama.
    Well, Im back...en for u guys, enjoy my lit room. Leave ur comments here...

    Jameela n Frens @ Bandung


    *(MAlang "walikan" language, its mean LUMAYAN) Wink

    (read more ...)

    17 Januari 2008

    kEna TIPUs, kok BIsA?

    Ditulis oleh dewi yuhana dan telah dikomentari sebanyak 7 buah


    “Maaf, aku nggak bisa dateng ke acaranya. Lagi sakit nich,” jawabku saat ditelpon seorang temen.

    “Sakit apa? pantes, suaranya lemah”.

    “Kena tipus nich”.

    “Loh, kok bisa?”.

    “Ya, buktinya bisa. Nggak usah kaget githu, wong aku sendiri juga kaget. Kok bisa sakit ’semi serius’ hehehe”.

    ****

    Pertanyaan ‘Loh, kok bisa?’, selalu dilontarkan secara spontan oleh temen-temen yang tau aku sakit. Yach, maklum juga sich klo mereka kaget saat mendapati aku sakit, dan bener-bener sakit. Bukan cuma flu, batuk, ato demam biasa. Tapi kena tipus!.

    Aku, yang biasanya selalu disibukkan dengan berbagai kegiatan, harus rela terkapar tak berdaya, doing nothing, istirahat total tal, tal, tal!. Meringkuk rapat di kamar kos yang tak luas, di atas kasur yang keras, dan hanya ditemani my luv bro, Aziz. Duh, kessiiiaaaannya!!.

    Sebenernya, pengin banget pulang ke Tulungagung. Cuma ya itu, ngebayangin perjalanan ke rumah, rasanya kepala udah puyeng, perut mual, dan the answer is NO!, I’ve to stay di Malang. Lagian, kalo aku pulang pasti ngerepotin my mom, dan semakin membuat dia capek. meskipun, klo boleh jujur, I miz her so much. Biasalah, anak kos klo lagi sakit pasti inget ama keluarga di rumah, yang terbiasa merawat dan memanjakan kita. hikz, hikz, hikz…

    Ada temen yang nyaranin untuk opname. Tapi aku sendiri gak suka ‘bau’ rumah sakit, dan membayangkan suntikan infus. Duh, EnggAKK!!!.

    Selain itu, meskipun kasur di kosku udah keras dan gak layak pake, paling enggak ukurannya jumbo, lha klo di RS? pake single bed githu, pasti aku gak bakal bisa muter-muter pas tidur. (xixixixi….panas tubuh yang tinggi emang ngebuat aku tidur dalam berbagai gaya dan pose ;-) ).

    Yang menyedihkan, penyakit yang menyerang usus halus dan disebabkan bakteri Salmonella Thypi ini bisa kambuh (lagi) dua minggu setelah pemberian antibiotik. So, penderitanya memang diwajibkan untuk mentaati setiap perintah dan larangan dokter. Misalnya aja, harus makan makanan yang halus, tidak boleh pedas, mengurangi makanan berserat, dan tentu saja harus menjaga stamina dan menghindari rasa lelah berlebih.

    Yang terpenting juga, KEBERSIHAN makanan musti dijaga. Maklum dech, penyebab bakteri itu bisa masuk dan menyerang usus halus, salah satunya emang dari makanan yang kurang higienis. (duuuuh, berarti gw nggak ngejaga kebersihan?!) eits No!. Siapa sich yang mau makan makanan gak higienis? Pasti ga ada yang mau dunk!!. Hanya saja, aku yang emang langganan makanan ‘warung n’ kantin’, emang kudu hati-hati memilih makanan dan higienitasnya. Selain tentu saja, stamina dan imun tubuh yang harus diperhatikan. Sebenarnya, klo badan dalam kondisi fit, pasti dech penyakit itu gak bakal dateng. Dan kalo diinget2 lagi, dua minggu sebelum terkapar sakit, aktivitasku emang meningkat tajam!.

    Dalam sehari, aku pernah pergi-pulang dari Malang-Semarang-Tulungagung! (sebenarnya, pengalaman di perjalanan itu mo aku tulis juga di sini, tapi belom sempet). Selain itu, pulang ke Tulungagung malem hari dan balik ke Malang keesokan harinya untuk kemudian langsung bekerja, juga aku lakukan beberapa kali. Belum lagi, pola makanku yang emang berantakan. ya sudah, emang gak salah kalo si tipus itu dateng!. Mungkin itu juga cara Allah mengingatkan aku untuk memperhatikan tubuh pemberian-Nya, menyayangi dan merawatnya sebaik mungkin. Mungkin juga, Dia mencoba ‘menggelitik’ aku untuk melakukan perenungan, yang tak akan bisa aku lakukan saat sehat. Dan, masih banyak kemungkinan lainnya. Yang jelas, ada banyak pelajaran dan hikmah yang seharusnya aku peroleh dari nikmat sakit yang sudah dianugerahkan oleh Sang Maha Kuasa.

    ****

    Datangnya tipus, benar-benar tak bisa aku prediksi sebelumnya. Sebab hari dimana aku sakit, aku tidak merasakan clue ataupun gejala-gejala yang menunjukkan aku akan sakit. Hari itu (Jumat, 4 Januari 2008), aku berangkat ke kantor seperti biasa. Pukul 15.30 WIB, saat mulai rapat redaksi, aku merasa sedikit demam.

    “Opo’o Han?,” tanya mas Indra saat melihatku memeluk tubuhku dengan kedua tanganku.

    “Nggak tau nih, nggreges, ” jawabku.

    “Wah, ati-ati, pancaroba. Mau flu tuh,” celetuk rekan yang lain.

    Setelah rapat, aku semakin merasa kedinginan dan mematikan salah satu AC. Anita, rekan di samping mejaku berkomentar. “Ah, ente sakit kali. Wong aku lho nggak ngerasa kedinginan, biasa aja hawanya!”.

    Aku mengiyakan dalam diam. KArena setelah itu, bukan cuma dingin menggigit yang aku rasakan, tapi juga rasa pusing luarrrr biasa. Bahkan, saat wudhu salat maghrib aku semakin gemetar dan menggigil kedinginan. Begitu juga ketika ruku dan sujud, kepala rasanya seperti dipalu dan dipukul berulang-ulang. Setelah itu, aku bekerja seperti robot. Tak bisa merasa, dan hanya melakukan editing super cepat.

    Saking pusingnya, aku pulang kantor lebih sore dan tak ikut rapat malam. Itupun aku minta diantar salah satu rekan kantor. Sampai di rumah, aku langsung tidur dan berharap kondisiku bisa fresh keesokan harinya.

    Ternyata, saat bangun untuk salat Subuh, rasa pening dan panas yang aku rasakan semakin menggila. Saat berjalan ke kamar mandi, aku harus berjuang mati-matian, berpegangan ke dinding agar tak terjatuh. Upz!!, bulu kudukku langsung berdiri saat air dingin membasahi tangan dan wajahku. Rasa pening pun semakin bertambah. Heran juga, pagi itu aku bisa kembali ke kamar dengan selamat dan masih sempat membawa ember (huehehehe, tau kan manfaat ember? yupz!!, untuk menampung semua yang kukeluarkan dari perutku ;-) ).

    ****

    Untung, adekku hari itu ada di Malang. Dia lah yang akhirnya merawatku, membawa ke dokter, dan meladeni celotehanku yang tanpa makna (saking panasnya tubuh, aku ngoceh terus menerus).

    “Iya mbak, habis ngomong A langsung pindah ke Z. Coba waktu itu, aku rekam, pasti dech sampean tertawa mendengarnya. Lucu bangetz!!,” katanya.

    >>>untung, dia lupa nggak ngerekam. Waaaah, bisa menurunkan pamor dan derajatku tuh…. yach, anyway busway, many thx untuk Aziz, yang dengan telaten menungguiku, menyiapkan segala makanan, dan obat yang aku perlukan. Eits, trus sekarang mengantar dan menjemputku di kantor

    (read more ...)

    28 Desember 2007

    Akhirnya

    Ditulis oleh dewi yuhana dan telah dikomentari sebanyak 5 buah


    Uh, finally... ngebuka FL juga....
    ternyata, more than two weeks, udah gak nyambangi my FL...

    (read more ...)

    14 Desember 2007

    tElpon Subuh

    Ditulis oleh dewi yuhana dan telah dikomentari sebanyak 4 buah


    menerima telpon dari nomor2 yang tidak terdapat di memoryku, sebenarnya bukan sesuatu yang aneh. Begitu juga kalo aku menerima telpon dari orang-orang yang belum aku kenal, tapi mereka merasa sok kenal, juga bukan sesuatu yang luar biasa, karena itu sering terjadi. Eitz, bukannya sok seleb, cuma emang pekerjaan memposisikanku untuk sering menerima informasi via phone dari berbagai kalangan. Tapi, biasanya mereka menelpon di jam-jam normal, dalam artian pada jam-jam kerja.

    Cuma pagi ini, aku dikagetkan oleh telpon dari 0341 78125xx *punya sapa nich?* yang menelponku jam 04.27 WIB!!. karena masih ngantuk, aku cuekin aja. Meskipun, I've to say thx kepada penelpon yang sudah membangunkanku untuk salat subuh. Maklum saja, beberapa hari terakhir aku suuusah banget bangun pagi!.

    Nggak berapa lama, flexiku berbunyi lagi dari nomor yang sama, pada pukul 04.37. Kali ini aku angkat dan say hello. Tapi penelpon langsung menutup sambungan. Nah loh, apa maksudnya sich? cuma mo ngebangunin aja? Klo mo jadi weker salat subuh, besok-besok bangunin aku lagi dech...

    (read more ...)
    footer